MENGEMBALIKAN SERANGAN BAMBANG NOORSENA

MENGEMBALIKAN SERANGAN
BAMBANG NOORSENA

(Tanggapan Seorang Unitarian atas Buku “togog madeg pandhita karya Bambang Noorsena”)

Pengantar:

Syalom, ….

Tulisan ini adalah tanggapanku atas buku-buku Bambang Noorsena yang sudah diterbit-sebarkannya guna menyerang Kristen Unitarian di Indonesia.

Pendiri ISCS, Bambang Noorsena, seorang penganut paham Allah Trinitas (konon ia adalah seorang mantan Islam) telah dua kali aku ketahui menulis dan menerbitkan buku yang bertujuan secara langsung menyerang Kristen Unitarian Indonesia. Yang pertama, pada tahun 2008 ISCS menerbitkan buku 40 halaman berjudul “Unitarian Bukan Kristen Tauhid”, dan pada 2009 menerbitkan “togog madeg pandhita”.

Kristen Unitarian Indonesia adalah golongan umat Kristen yang tidak beriman kepada doktrin Allah Trinitas (Allah Tritunggal). Bagi kaum Unitarian (Anti-Trinitas), doktrin Trinitas adalah doktrin yang tidak patut diimani.

Sepengetahuanku, setidaknya sampai dengan kutuliskan tulisan ini, dari pihak Unitarian Indonesia kelihatannya belum ada orang yang secara khusus menanggapi balik serangan-serangan yang selama ini gencar dilakukan oleh Bambang Noorsena, kecuali hanya beberapa artikel di internet yang pernah ditulis oleh seorang Unitarian bernama Frans Donald.

Aku, adalah seorang Unitarian alias penolak doktrin Allah Trinitas, atau lebih tegasnya lagi, seorang ANTI-TRINITAS!

Bagi ku, seperti yang juga pernah diyakini oleh Sir Isac Newton, doktrin Allah Trinitas versi Gereja-Gereja adalah hanya ajaran omong kosong yang berasal dari luar kekristenan sejati, hingga perlu untuk dihilangkan dari kekristenan yang sejati.

Kemunculan buku-buku sesat yang mengajarkan Allah Trinitas (Tritunggal) versi Gereja-Gereja, sungguh patut untuk dilawan dengan buku atau tulisan pula. Nah, oleh karena itu, selain buku sesat yang diterbitkan oleh Stephen Tong (berjudul “Allah Tritunggal”) perlu dilawan (dan rupanya perlawanan terhadap buku Tong tersebut sudah pernah terwakili oleh buku Unitarian karya Frans Donald yang berjudul “Menjawab Doktrin Tritunggal”), maka buku sesat karya-karya Bambang Noorsena yang juga mengajarkan doktrin Trinitas sembari gencar menyerang Unitarian (dan menyerang Kristen Saksi Yehuwa) itu juga perlu ditanggapi atau dilawan dengan tulisan pula.

Aku, seorang Anti-Trinitas, adalah salah satu dari orang-orang Unitarian yang tentu saja berhak menjawab atau menangkis atau mengembalikan fitnahan-fitnahan dari para penyerang Unitarian, termasuk si Bambang Noorsena itu tentunya. Maka tulisan ini pun aku tuliskan. Tanpa basa-basi. Langsung pada intinya, yaitu MENGEMBALIKAN SERANGAN BAMBANG NOORSENA, sebagaimana serangannya yang tertuang dalam buku togog madeg pandhita.

Buku Bambang Noorsena itu memang tidak secara langsung menyerang diriku secara pribadi. Tapi, buku setebal 216 halaman tersebut telah secara langsung menyerang Arian yang juga nota bene adalah Unitarian. Dan aku, seorang Katolik pengikut Arian, adalah seorang Unitarian, maka aku pun berhak mengembalikan serangan-serangan dari pendiri ISCS tersebut!

Dalam rangka tulisan ku melalui karya ini, guna mengembalikan serangan-serangan Bambang Noorsena, aku pun terpaksa mengembalikan pula kata-kata bernada makian (negatif, tidak enak didengar/diucapkan) yang sejatinya berasal-usul dari perbendaharaan mulut Bambang Noorsena sendiri. Kata-kata makian yang terpaksa aku kembalikan ke asalnya itu di antaranya: “goblok” (kata ini banyak bertaburan dalam buku Noorsena), juga kata “gombal mukiyo”, kata “entut berut”, “seenak perut”, “bahlul”, “keminter” (sok pintar), dllnya.

Perlu kusampaikan pula, bahwa dalam Kitab Matius pasal 7 ayat 1 dan 2 tersurat demikian:
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Maka adalah wajar jika sekarang ini melalui buku ini, akibat ulah Bambang Noorsena yang selama ini gemar menghakimi dan menggoblok-goblokkan orang lain, kini tampil pula tulisan lain yang ganti menghakimi diri Bambang Noorsena sebagai “goblok”, “gombal mukiyo”, “bahlul”, “entut berut”, “keminter”, dsbnya, sebab “ukuran yang telah Bambang Noorsena pakai untuk mengukur, layak diukurkan pula kepadanya”!

Oya, satu hal lagi. Harapan ku, dengan hadirnya tulisan ini, semoga orang-orang yang juga ‘terkesan’ (atau dibuat berkesan) seolah-olah berpihak pada Bambang Noorsena, yaitu orang-orang yang komentarnya tercantum pada sampul belakang buku “togog madeg pandhita”: Mgr. Soenarko, SJ. (Uskup Purwokerto dan penerjemah Kitab suci ke dalam bahasa Jawa), dan Drs. Hermawan Kartajaya, MSc.,FCIM. (President WMA), dan K.P. Koesoemo Hartami Adiningrat, dan Sonny, dosen UNAIR Surabaya yang gelar akademisnya berjejer panjang bagaikan jemuran (Dr. Dr. A. Sonny Nursutan H., Ir., MM., MA., MTh. CPM (A)), dan Dr. Artono, SH, MH (Pengacara Senior, Pendiri Kongres Advocate Indonesia [KAI]), serta Yaya Winarno Junardy, FCIM, CPM (AP) (Managing Director and Chief Corporate Officer, PT. Rajawali Corp. Jakarta), kiranya dapat pula menyimak buku tulisan ku yang menelanjangi kebodohan kawan mereka yang bernama Bambang Noorsena itu!

Dan… untukmu hai Noorsena cs, karena kau telah menabur angin, kau kan menuai badai …; karena kau telah menyulut api, maka kehangusan akan melandamu ….!

Selamat membaca…!

ARYA SAMUDERA, seorang Arian-Katolik, Unitarian (Anti-Trinitas).
(Website kegemaranku: http://www.arian-catholic.org)

BAB 1

Membedah “Doa Polykarpus”.
(Tanggapan terkait pernyataan Bambang Noorsena di halaman 6):

Di halaman 6 pada buku yang oleh Hermawan Kartajaya disebut sebagai “Sebuah karya yang luarbiasa, …” itu, yang di dalamnya bertaburan kata-kata makian, hinaan, dan fitnah itu (seperti misalnya kata: “Goblok”, “Diancuk”, “Diamput”, “gombale mukiyo”, “entut berut”, dll.) Sena Adiningrat alias Bambang Noorsena [atas nama tokoh SEMAR rekaannya], dengan sangat percaya diri, berargumen bahwa: Polykarpus, murid Rasul Yohanes ketika wafat sebagai syahid, ia berdoa kepada Allah Tritunggal: “Aku memuji Nama-Mu, oleh Imam Besar surgawi kami yang kekal, yaitu Yesus Kristus, Sang Putra terkasih-Mu, yang oleh-Nya dan bersama-sama dengan-Mu, Ya Bapa Surgawi, dan dengan Roh Kudus-Mu, segala hormat dan kemuliaan, dari sekarang kekal selama-lamanya.”

Kita semua bisa memperhatikan dengan jelas bahwa, Bambang Noorsena, yang dalam buku “togog madeg pandhita” memakai nama “K.P. Sena Adiningrat” itu, telah mengklaim bahwa pada kutipan tersebut Polycarpus sedang berdoa kepada Allah Tritunggal.

Tanggapan ku adalah:

Sekilas Info:
Sebelumnya perlu lagi kiranya aku sampaikan CATATAN (sebagai penegasan) bahwa karena Bambang Noorsena suka (gemar, hobi, cinta mati) dengan istilah/kata “goblok”, maka aku akan mengembalikan semua kesukaannya (hobinya, kegemarannya, kecintamatiannya) itu secara proporsional kepadanya. Berbagai kata-kata bernada negatif seperti “goblok”, “entut berut”, “bahlul”, dllnya yang tertuang dalam tulisan ini seluruhnya bukan berasal dari diriku, melainkan aku hanya secara proporsional terpaksa MENGEMBALIKANNYA kepada sumber dari asal-usul keluarnya kata-kata benrada “negatif” itu, yaitu Bambang Noorsena sendiri, seperti yang dituliskannya dalam “togog madeg pandhita”! Sebagaimana tertulis dalam Alkitab “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Maka, dalam hal ini, aku tidak sedang menghakimi menurut kemauanku sendiri, dan aku tidak sedang mengukur memakai ukuranku sendiri, melainkan yang kulakukan adalah: Mengembalikan ukuran, yang selama ini telah Bambang Noorsena ukurkan pada orang lain, kepada diri Bambang Noorsena sendiri!

Ku serukan: “Terimalah kembali ukuranmu sendiri hai Bambang “goblok” Noorsena…!”

Nah, mari kita mulai.
Bisa dikatakan bahwa merupakan suatu kebodohan (istilah Noorsena: kegoblokkan) yang amat nyata bisa kita saksikan dari seorang Bambang Noorsena ketika ia dengan percaya diri berkata bahwa “Polykarpus, murid Rasul Yohanes ketika wafat sebagai syahid, ia berdoa kepada Allah Tritunggal” dengan mana Noorsena mengutip perkataan Polycarpus yang demikian “Aku memuji Nama-Mu, oleh Imam Besar surgawi kami yang kekal, yaitu Yesus Kristus, Sang Putra terkasih-Mu, yang oleh-Nya dan bersama-sama dengan-Mu, Ya Bapa Surgawi, dan dengan Roh Kudus-Mu, segala hormat dan kemuliaan, dari sekarang kekal selama-lamanya.”

Yuk, kita kasih Noorsena gelar: “si goblok!”.
Mengapa Bambang Noorsena layak kita beri gelar sebagai “si goblok”? Jawabannya adalah karena selain Noorsena sangat akrab (‘cinta mati’) dengan perbendaharaan kata ‘goblok’ tersebut sebagaimana mulutnya suka mengeluarkan kata-kata itu, juga di sini faktanya dapat kita lihat, dari kutipan perkataan Polycarpus yang dikutip oleh Noorsena itu, bahwa di situ Polycarpus samasekali tidak berkata bahwa “Aku memuji (berdoa) kepada Allah Tritunggal” seperti klaim Noorsena yang goblok itu, melainkan yang Polycarpus katakan dalam kutipan yang dibangga-banggakan oleh Bambang “goblok” Noorsena itu adalah: “Aku memuji Nama-Mu, oleh Imam Besar surgawi kami yang kekal, yaitu Yesus Kristus, Sang Putra terkasih-Mu, yang oleh-Nya dan bersama-sama dengan-Mu, Ya Bapa Surgawi, dan dengan Roh Kudus-Mu, segala hormat dan kemuliaan, dari sekarang kekal selama-lamanya.” Nah, sekarang mari kita telaah lebih jauh pernyataan kalimat Polycarpus si murid Yohanes tersebut kata demi kata sebagai berikut:

Polycarpus di situ berkata, “Aku memuji nama-Mu”, nah, kata “…-Mu” yang dimaksud oleh Polycarpus ini jelas menunjuk kepada Allah Yang Maha Kuasa (yang pada kalimat berikutnya oleh Polycarpus disebut sebagai “Bapa Surgawi”).

Kemudian kita lihat perkataan Polycarpus yang tertulis, “oleh Imam Besar surgawi kami yang kekal, yaitu Yesus Kristus, Sang Putra terkasih-Mu, yang oleh-Nya dan bersama-sama dengan-Mu, Ya Bapa Surgawi, dan dengan Roh Kudus-Mu, …”. Nah, di sini siapa saja yang jujur dan berakal sehat pasti tahu dan bisa melihat dengan jelas bahwa, tentang Yesus, Polycarpus memahami keberadaannya sebagai: 1) Imam Besar surgawi, 2) Kristus, 3) Putera terkasih Bapa surgawi (Allah), 4) yang bersama-sama dengan Bapa surgawi (Allah).

Polycarpus dari doanya itu terungkap jelas (tidak ambigu dan tidak multi tafsir, dan tentunya tidak goblok seperti Noorsena!) bahwa ia mengenal Yesus dengan ‘empat jabatan/sebutan’ dalam perkataan itu, yaitu:
1. Imam Besar surgawi
2. Kristus
3. Putera terkasih Allah (Bapa surgawi)
4. yang bersama-sama dengan Allah (Bapa surgawi).

Nah, Jika Polycarpus, salah satu murid Rasul Yohanes, mengenal Yesus sebagai “Imam Besar surgawi” maka hal itu adalah tentu sama dengan pengenalan Penulis Kitab Ibrani terhadap Yesus, yang mengatakan bahwa “…kita memiliki Imam Besar…, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga,..” (Ibrani 8:1). Yesus memang adalah Imam Besar yang duduk di sebelah kanan ALLAH. Imam Besar adalah pengantara antara bagi manusia dengan Allah, sebagaimana tertulis “Karena itu Ia (Yesus) sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia (Yesus) datang kepada Allah (Bapa). Sebab Ia (Yesus) hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7:25). Dan ada pula tertulis: “…hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus.” (Ibrani 3:1). Artinya jelas, Yesus adalah Rasul (pembawa risalah) dan Imam Besar (Pengantara), dan samasekali BUKAN ALLAH YANG MAHA KUASA!

Kemudian, Polycarpus juga mengenal Yesus sebagai “Kristus”. Nah, di sini siapa saja orang yang jujur dan berakal sehat (tidak gila) serta berilmu tentu paham bahwa makna dari “Kristus” (Mesias) artinya adalah “orang yang diurapi/dilantik/disahkan oleh Allah”. Seorang Kristus jelas sejatinya bukanlah Allah sejati, sebab Kristus adalah obyek pribadi “yang diurapi” oleh Allah, dan Allah adalah subyek “yang mengurapi”. Kristus bukan Allah! Dan, Allah bukan Kristus!

Kemudian, Polycarpus juga menganggap Yesus sebagai “Putera terkasih Bapa surgawi” (Yesus Anak Allah). Hal ini juga samasekali tidak membuktikan bahwa Polycarpus sedang menganggap Yesus sebagai Allah yang sejati seperti yang diklaim oleh penggagas doktrin Allah Tritunggal yang secara asal-asalan menyebut Yesus sebagai “Allah Anak”. Alkitab bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan tidak ada tertulis Allah Anak!

Kita bisa sama-sama lihat dengan sangat jelas betapa goblok (dan ngawur)-nya Bambang Noorsena dalam menangkap kata-kata Polycarpus di atas.

Faktanya jelas Polycarpus mengenal Yesus sebagai 1) Imam Besar (Pengantara manusia kepada Allah), dan 2) Kristus (orang yang diurapi/dilantik/disahkan oleh Allah), dan 3) Putera Allah (Anak Allah).
Dari kutipan perkataan Polycarpus yang dibangga-banggakan oleh Noorsena yang goblok tersebut faktanya tidak ada samasekali kata-kata yang menyebut Allah Tritunggal (Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus)! Klaim Bambang “goblok” Noorsena bahwa Polycarpus telah berdoa kepada Allah Tritunggal hanyalah ilusi belaka demi ambisinya mengajarkan doktrin Trinitas yang sesat. Noorsena bak mimpi di siang bolong! atau kalau boleh meminjam (tepatnya mengembalikan) istilah milik Bambang Noorsena, argumen semacam itu hanyalah argumen “entut berut!”, suaranya keras, baunya bikin mual, tapi isinya kosong melompong! Bussss ……!

(Note: Dalam bukunya yang dikomentari juga sebagai buku yang “..ciamik” oleh Dr. Artono, SH, MH [Pengacara senior, Pendiri Kongres Advocate Indonesia] itu Bambang Noorsena di halaman 194 sempat mengejek buku-buku Unitarian sebagai “gombale mukiyo” dan “entut berut”. Kata-kata “entut berut” itulah yang kini secara proporsional terpaksa aku kembalikan ke mulut kotor Bambang Noorsena si SARJANA HUKUM yang goblok itu).

TAFSIRAN ALA PASAR KLEWER

Bambang Noorsena dalam bukunya juga telah mengejek paham Unitarian Indonesia sebagai “eisegese” ala pasar Klewer. Nah, pada kesempatan ini aku akan dengan senang hati pula mengembalikan ejekan Bambang Noorsena itu ke dalam rongga kerongkongan mulutnya sendiri.

Dari kegoblokkan Bambang Noorsena yang secara semau perutnya sendiri menafsirkan kata-kata Polycarpus tadi, bisa kita sama-sama ketahui bobot analisa picisan si pendiri ISCS (Institute for Syriac Christian Studies) itu. Bobotnya telah terbukti benar-benar murahan, ala “Pasar Klewer”!

Nah, kalau saudara-saudari cermat mengikuti setiap tulisan-tulisan Sarjana Hukum yang goblok ini, anda akan bisa menilai bahwa bobot analisa seorang Sarjana Hukum bernama Bambang Noorsena itu hanyalah analisa dan argumen-ergumen murahan yang bukan saja goblok, tapi ternyata juga banjir kepalsuan! Buktinya? Perhatikanlah penjelasan ku yang berikut ini:

Sebelum menyerang Unitarian dengan buku yang berjudul “togog madeg pandhita” (2009), Sarjana Hukum yang goblok ini pada tahun 2008 lalu telah juga menyerang Unitarian dengan buku yang berjudul “SEKTE UNITARIAN BUKAN KRISTEN TAUHID”. Nah, dalam buku setebal 40 halaman itu, Sarjana Hukum yang goblok ini tanpa disadarinya telah secara terang-terangan menelanjangi kegoblokkan analisanya sendiri selama ini. Dalam buku terbitan ISCS, yang pada cover belakangnya tertulis kata-kata kebanggaan Bambang Noorsena “Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Goblok” itu, si Sarjana goblok ini, telah melakukan suatu hal yang oleh Frans Donald (seorang penulis Unitarian) dikatakan sebagai DUSTA BESAR (Penipuan Publik!) yang sangat memalukan. Aha… ! Apa DUSTA BESAR atau PENIPUAN PUBLIK yang Noorsena telah lakukan dengan tak punya malu itu? Inilah jawabannya (tulisan berikut ini aku ambil / copy paste dari tulisan saudara Frans Donald dari http://www.fransdonald.blogspot.com yang berjudul “TERNYATA BAMBANG NOORSENA ADALAH SAKSI DUSTA”):

Inilah kutipannya:

Ternyata Bambang Noorsena adalah Saksi Dusta
(oleh: Frans Donald)
Di cover belakang bukunya tertulis: Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Goblok! Bambang Noorsena Spesialis penyembuh penyakit pikiran, pengamat hubungan antaragama dan pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS). Sementara di cover depannya tertulis judulnya: SEKTE UNITARIAN BUKAN KRISTEN TAUHID Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA.
Setelah saya baca buku tipis 40 halaman itu, saya tersenyum sendiri sambil bergumam: “He..he..he.., nekad benar orang ini”. Kenapa saya anggap dia nekad? Berikut sekilas infonya:

Pada Tanggal 8 April 2008, Saya (Frans Donald) beserta Tim Unitarian (Benny Irawan, Oktino Irawan dan Tirto Sujoko) hadir di acara ISCS di Gedung Keuskupan Surabaya. Pembicara saat itu adalah Benny Irawan (Unitarian) dan Bambang Noorsena (Trinitarian, Ortodoks Syria).
Saya hanya akan menanggapi sedikit saja sesuatu hal yang menarik dan cukup mengejutkan terjadi ditengah-tengah acara itu, yaitu salah satu pernyataan “sesumbar / tantangan” dari Bambang Noorsena. Sambil menunjukkan buku tulisannya yang berjudul SEKTE UNITARIAN BUKAN KRISTEN TAUHID (buku yang diterbitkan untuk menyerang Unitarian), Bambang Noorsena berkata-kata di depan banyak orang yang hadir kala itu, kira-kira demikian:
“Kalau ada tulisan saya yang salah, silahkan saya dituntut! Tuntutlah saya dengan pasal pencemaran nama baik!”
Nah, hal yang sedikit mengejutkan saya hari itu adalah berkenaan dengan pernyataan Bambang tersebut. Saya terkejutnya adalah karena setelah saya baca buku karya Bambang setelah acara malam tersebut (buku: SEKTE UNITARIAN BUKAN KRISTEN TAUHID), ternyata buku itu isinya memang benar-benar mengandung “Pencemaran Nama Baik” serta “Kebohongan Publik”, sementara beberapa jam sebelumnya saya mendengar sesumbarnya menantang kami untuk menuntut jika ada tulisannya yang salah. He..he..he.. Saya agak heran. Padahal Bambang Noorsena adalah seorang yang bergelar “SH” alias Sarjana Hukum, bahkan pernah saya dengar dia adalah juga Dosen di salah satu universitas, serta juga mengaku-ngaku sebagai Intelektual Kristen. Sarjana Hukum (ahli Hukum yang tentunya wajib menegakkan kebenaran), Dosen dan Intelektual Kristen, kok nekad berani mempermalukan (merusak citra) dirinya sendiri dengan berbohong dan sesumbar begitu, ya? Apa jadinya bangsa kita jika memiliki Sarjana Hukum dan Dosen yang berakhlak buruk dan memalukan seperti itu? (Silahkan pembaca renungkan).
Apa saja “Kebohongan/penipuan Publik” dan “Pencemaran Nama Baik” yang nyata-nyata telah dilakukan Bambang Noorsena melalui bukunya yang berjudul: SEKTE UNITARIAN BUKAN KRISTEN TAUHID tersebut?
Cukup banyak kandungan fitnah dan penipuannya, saya tidak akan membahas seluruhnya, tetapi di antaranya misalnya:

1. Dalam buku yang tampaknya diterbitkan dengan tujuan khusus untuk menyerang Unitarian (yaitu Saya dan rekan-rekan saya) itu, Bambang Noorsena menuliskan:

Malahan, ketika seorang rekan menyodorkan buku Frans Donald, Allah dalam alkitab dan AlQur’an: Sesembahan yang Sama atau Berbeda, saya hanya mengirimkan SMS yang membodoh-bodohkan mereka. Kalau bukan begitu, lalu dengan kata apa lagi yang tepat? Mungkin saja Donald merasa terpukul dengan “bahasa Jawa Timuran” saya, dan balas mengkritik saya dan menyebut saya “kemaki”. …” (Hal.15, Unitarian Bukan Kristen Tauhid, tulisan Bambang Noorsena, 2008).

Bambang Noorsena, Sarjana Hukum (yang seharusnya wajib menjunjung tinggi kebenaran dan hukum), mengatakan bahwa Saya (Frans Donald) membalas mengkritik dan menyebut Bambang Noorsena “kemaki”. Padahal saya tidak pernah membalas SMS Bambang Noorsena tersebut dengan mengatai Bambang Noorsena “kemaki”. Pernyataan Bambang Noorsena dalam hal ini jelas-jelas adalah FITNAH dan PENIPUAN Publik!

2. Bambang Noorsena juga menuliskan:

“…mereka (Unitarian, maksudnya Pdt. Tjahjadi Nugroho, Frans Donald dan rekan-rekannya) reaksi dengan menggelar seminar yang menghadirkan Rm. Tom Jacobs, Rm. Banawiratma, Hortensius F. Mandaru dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), dan Nugroho sendiri, di Semarang, 28 April 2007. Tujuan seminar itu jelas, untuk mencari dukungan para ahli seolah-olah membenarkan ajaran mereka. Hal itu tampak dari pertanyaan “menggiring” pewawancara, Hanna Lie, salah satu penganut ajaran Unitarian yang menjadi wartawan Crescendo.” (Hal.15, Unitarian Bukan Kristen Tauhid, karya Bambang Noorsena).

Tulisan Bambang Noorsena, Sarjana Hukum, tersebut jelas nyata-nyata sebagai suatu upaya pemelintiran (Penipuan Publik) atas fakta kejadian peristiwa (suatu sejarah) yang terjadi di tahun 2007 yang lalu. Bambang Noorsena telah memberikan informasi palsu (saksi dusta) kepada publik / masyarakat yang membaca bukunya, di antaranya:

1. Bambang Noorsena menuliskan bahwa acara seminar pada 28 April 2007 di Semarang, yang menggelar (mengadakan) adalah Unitarian (maksudnya: Pdt Tjahjadi Nugroho dan kawan-kawan saya sesama Unitarian), padahal kenyataannya jelas-jelas acara tersebut samasekali tidak digelar atas kemauan atau inisiatif sedikitpun dari Pdt. Tjahjadi Nugroho atau pun rekan-rekan saya sesama unitarian. Pernyataan Bambang Noorsena Ini jelas dusta alias “Penipuan kepada Publik”! Sangat banyak orang saksi yang tahu betul bahwa penyelenggara seminar tersebut adalah Majalah Lintas Denominasi Crescendo serta Yayasan Gema Kasih (yayasan Kristen yang sepengetahuan saya justru merupakan orang-orang yang menganut paham Trinitas) dan penyelenggaraan seminar 28 april 2007 itu tidak ada sama sekali campur tangan dari pihak kami (Unitarian).

2. Bambang Noorsena menuliskan juga bahwa seminar 28 April 2007 di Semarang ketika itu menghadirkan Nugroho (sebagai salah satu nara sumber). Ini nyata-nyata merupakan dusta atau Penipuan Publik! Pdt. Tjahjadi Nugroho saat seminar itu sama sekali tidak hadir, karena pak Nugroho memang bukan sebagai Pembicara saat itu. Nara sumber yang dihadirkan ketika itu ada 4 orang, yaitu: Romo Tom Jacobs, SJ, Profesor JB. Banawiratma, Hortensius F M, SSL dari L.A.I dan Pdt. Drie S Brotosudarmo, M.Th.

3. Bambang Noorsena menuliskan pula: Tujuan seminar itu jelas untuk mencari dukungan para ahli seolah-olah membenarkan ajaran mereka (ajaran Unitarian). Pernyataan ini juga jelas penuh dusta alias “Penipuan kepada Publik”. Karena banyak orang saksi yang tahu betul bahwa penyelenggara seminar tersebut adalah Majalah Lintas Denominasi Crescendo serta Yayasan Gema Kasih (yayasan Kristen yang sepengetahuan saya justru merupakan orang-orang yang menganut paham Trinitas). Tujuan acara itu nyata-nyata bukanlah sebagaimana fitnahan Bambang Noorsena terhadap kami (Unitarian) tersebut!

4. Di situ Bambang Noorsena menuliskan pula bahwa Hana Lie adalah salah satu penganut ajaran Unitarian yang menjadi wartawan Crescendo. Ini juga merupakan penyaksian yang dusta. Hanna Lie ketika itu adalah redaktur Crescendo dan bukan orang yang berorganisasi atau pun tergabung dalam jajaran Kristen Tauhid atau Unitarian Indonesia.

Hal-hal di atas adalah beberapa contoh bukti nyata dan akurat perihal kebohongan/penipuan Publik (Saksi Dusta) yang telah dilakukan oleh Bambang Noorsena. Dan di buku karya Bambang Noorsena tersebut masih ada lagi fitnahan ngawur terhadap rekan saya Pdt. Tjahjadi Nugroho (yang menjabat ketua Asosiasi Pendeta Indonesia) serta juga mengandung pemelintiran-pemelintiran lain berkenaan dengan pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh Romo Tom Jacobs mau pun Profesor Banawiratma dalam seminar di Semarang tersebut, guna seolah-olah membenarkan argumen-argumen Bambang. Tragis!
Salah satunya, kesan yang muncul dari tulisan Bambang tersebut seolah-olah Romo Tom Jacobs sebenarnya percaya bahwa Yesus itu Allah tetapi oleh pewawancara digiring agar Romo Tom mendukung pikiran pewawancara. Ini adalah fitnah, saya tahu betul pewawancara (Hanna Lie) bukanlah anggota Unitarian / Kristen Tauhid, Hanna Lie dalam wawancaranya sama sekali tidak bermaksud menggiring Romo Tom agar mengeluarkan statement yang menolak rumusan Trinitas. Saya punya bukti akurat berupa CD* dan wawancara Tom Jacobs yang tegas terang-terangan menolak rumusan doktrin Trinitas. Beberapa di antaranya, Tom Jacobs berkata:
“Sejak tahun 1974 sampai sekarang saya sudah tidak percaya bahwa Yesus itu Allah; Saya lebih kristiani sejak percaya bahwa Yesus itu bukan Allah dari pada sebelumnya. Yang benar ya Bapa itu Allah, Yesus itu jalan menuju Allah”. Serta pernyataan-pernyataan lain yang jelas sekali di mana Romo Tom menolak tegas rumusan-rumusan doktrin Trinitas!
Pendapat Saya, buku Unitarian Bukan Kristen Tauhid yang berisi fitnah, pencemaran dan penipuan publik tersebut sepertinya hanyalah berisi ungkapan-ungkapan sentiment pribadi Bambang Noorsena terhadap kami, entah mengapa dia begitu terkesan “kebakaran jenggot” atas keberadaan kami (Unitarian), saya tidak tahu pastinya. Tapi, kami, yang telah difitnah dan dicemarkan oleh Bambang Noorsena, merasa belum perlu menuntut “kejahatan” Bambang Noorsena tersebut sebagaimana sesumbarnya: “Tuntutlah saya kalau ada tulisan yang salah, dengan tuntutan pencemaran nama baik!”. Yang saya rasa lebih penting adalah kiranya publik, yang bisa berpikir lurus dan jujur di hadapan Tuhan, mengetahui mana yang benar dan mana yang dusta. Dan himbauan saya bagi antek-anteknya Noorsena, yang sering mengirim SMS gelap pada saya, sebaiknya anda semua camkan bahwa jika selama ini anda-anda begitu menyanjung-sanjung Noorsena serta mudah percaya dengan cerita-cerita tentang sejarah-sejarah doktrin gereja versi Noorsena, kini saatnya anda-anda pikirkan kembali, yaitu Haruskah Anda Percaya Bambang Noorsena yang sering mengaku sebagai peneliti dan intelektual Kristen, sementara terbukti nyata-nyata saat menganalisa / meneliti peristiwa sejarah di Indonesia yang baru terjadi 1 tahun berlalu dan masih hangat saja Noorsena terbukti jelas-jelas ngawur + fitnah + berani nekad terang-terangan menipu pada khalayak ramai, apalagi ketika Noorsena bicara sejarah-sejarah ribuan tahun yang silam, patut dipikirkan ulang. Demi kepentingan pribadi / golongannya, maka sangat mungkin Noorsena bisa jadi akan lebih berani lagi untuk mengubah sejarah dan memutar balikkan fakta-fakta! Sejarah yang baru, masih hangat, serta saksi-saksi hidup masih ada saja berani dipalsukan, apalagi sejarah yang terjadi nun jauh di sana di masa ribuan tahun yang silam di mana saksi-saksi hidup sudah tidak ada sama sekali! Ingatlah bahwa tentang Saksi Dusta Alkitab bersaksi:
“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta …, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, … seorang saksi dusta yang menyemburkan kebohongan …” Amsal 6:16-19
“Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan adalah saksi dusta.” Amsal 14:5
“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman..” Amsal 19:5
Iblis adalah Bapa para pendusta (Yoh 8:44), jadi seorang Saksi Dusta = anak Iblis! Camkanlah semua itu.

Terimakasih.

(Frans Donald, kontak telp. 081 7971 9991)

*****

Nah, sebagaimana yang sudah disampaikan oleh kawan Unitarian, Frans Donald (salah seorang Unitarian Indonesia, penulis buku Menjawab Doktrin Tritunggal), yang aku kutip di atas, Bambang Noorsena, si Sarjana Hukum yang goblok itu, melalui bukunya, sungguh telah terbukti secara telanjang jelas-jelas salah analisa dan tak tahu malu menebar dusta dan fitnah, kini mari kita kembali ingat pada kesalahan (tepatnya kegoblokkan) pendiri ISCS yang pongah itu saat membaca (menganalisa, menafsirkan, menangkap, mengasumsikan) perkataan Polycarpus yang sudah aku bahas tadi.

Sangat jelas faktanya bisa dilihat oleh siapa saja yang jujur dan berakal sehat bahwa perkataan Polycarpus yang dikutip oleh si goblok Noorsena ternyata samasekali tidak menyebut adanya Allah Tritunggal (fakta ini jelas tidak sesuai dengan klaim Noorsena yang goblok!), melainkan Polycarpus di situ menyebut Yesus sebagai:
1) Imam Besar (Pengantara manusia kepada Allah), dan
2) Kristus (orang yang diurapi/dilantik/disahkan oleh Allah), dan
3) Putera Allah (Anak Allah).

Nah, dari dua hal kesalahan Bambang “goblok” Noorsena ini (salah paham tentang perkataan Polycarpus ribuan tahun yang silam yang dikutipnya, dan juga salah fatal dalam soal yang baru terjadi satu tahun lewat seperti yang disampaikan oleh Frans Donald) maka siapa saja yang jujur akan sepakat dengan ku bahwa sesungguhnya FAKTA sudah membuktikan bahwa kesarjanaan Bambang Noorsena dan analisa-analisanya hanyalah argumen gombal mukiyo bin entut berut ala pasar Klewer! Hahaa…haaa …. Makan tuh entut berutmu sendiri hai Noorsena yang pongah!

Sekedar Info tambahan:

Terkait pernyataan Frans Donald tentang DUSTA/PENIPUAN PUBLIK yang dilakukan si goblok Noorsena, menyinggung Pdt. Tjahyadi Nugroho [Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia] dan menyinggung organisasi API (Asosiasi Pendeta Indonesia), silahkan para pembaca bacalah juga buku berjudul “API Yang Kulihat” karya saudara Putu Praba Darana. Dalam buku tersebut, Pdt. Putu Praba Darana, dengan bahasanya yang khas dan indah, telah juga menelanjangi fitnah-fitnah yang telah dilakukan seorang Bambang Noorsena.

Di buku berjudul “API Yang Kulihat” itu, Bambang Noorsena, yang oleh saudara Putu Praba Darana disebut sebagai ‘Yang Tersuci Tuan Penulis buku Unitarian bukan Kristen Tauhid’, di situ diungkap secara gamblang (ditelanjangi) sebagai seorang provokator, penabur benih permusuhan, penyesat, dan pemfitnah!

Berikut pula ku berikan sedikit kutipan dari tulisan saudara Putu Praba Darana dalam buku “API Yang Kulihat” terkait menanggapi provokasi dan serangan serta hinaan dari ‘Yang Tersuci Tuan Penulis buku Unitarian bukan Kristen Tauhid’ alias Bambang Noorsena kepada API (Asosiasi Pendeta Indonesia) itu. Demikian Putu menulis:

Halaman 31-32: “…Sejujurnya kami para pendeta praktisi jemaat yang tergabung di API ini merasa dihakimi dan dihina. Pertanyaan di hatiku, sama seperti pertanyaan dalam Alkitab! Mengapa kami dihakimi dan diperhinakan? ….

….Memang ada kudengar bahwa Tuan Yang Tersuci penulis Buku “Unitarian Bukan Kristen Tauhid” menantang menyelesaikan perkara ini ke pengadilan. Atau berani dituntut di pengadilan. Wah, menurutku ini provokasi yang hebat! (Sekali lagi meminjam bahasa kaum tehnokrat. Aku sekedar orang di luar akademisi) Mengapa hebat? Jika ada yang terprovosir, maka akan diumumkan ke seluruh jagad, bahwa yang menuntutnya ke pengadilan tidak tahu firman Tuhan. Jelas bukan orang Kristen Buktinya tidak tahu bahwa Paulus sudah pernah menulis dalam 1 Korintus 6 : 1 (Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?). Mari kita renungkan tulisan Paulus ini! Lalu lihat pengadilan di negeri kita ini? Nah, jadi bagaimana jika kita mengharap keadilan dari mereka? Maka bongkahan tuduhan akan dilemparkan ke orang yang menuntut Yang Tersuci Penulis buku “Unitarian Bukan Kristen Tauhid” ke pengadilan sebagai “tidak tahu firman, pasti bukan orang Kristen, orang yang diselundupkan, dan macam-macam!” Hebat banget kan, Tuan Yang Tersuci punya provokasi. Dan dengan demikian dalam tubuh API sendiri akan terjadi perpecahan. Akan terjadi saling ketidakpercayaan.”

Halaman 33-34: “Mungkin benar bahwa aku terlalu bodoh sehingga dalam hati bisa berarak-arak gumpalan pertanyaan yang tidak kunjung habis, atas serangan yang dilakukan terhadap API hampir di setiap kesempatan. Terutama sekali Yang Tersuci Tuan Penulis buku Unitarian Bukan Kristen Tauhid.

Halaman 36: “…Yang Tersuci Tuan Penulis buku “Unitarian Bukan Kristen Tauhid” sengaja menyesatkan pembaca….”

Halaman 37: “…Yang Tersuci Penulis yang suka menuduh API sesat, sebenarnya adalah Penyesat itu sendiri!! …
…Jika aku menulis buku ini, skedar untuk memberitahu khalayak, bahwa API tidak pernah melakukan seperti apa yang dituduhkan Yang Tersuci Tuan Penulis buku “Unitarian Bukan Kristen Tauhid”. …”

*****

BAB 2

Unitarian (dan Saksi Yehuwa) Tidak Menolak Keilahian Yesus!

Dalam berbagai kesempatan si Sarjana Hukum tukang tipu itu (Bambang Noorsena SH.) sering menyebar kabar, semacam propaganda hitam kepada khalayak ramai, bahwa “Unitarian dan Saksi Yehuwa sesat karena tidak percaya keilahian Yesus”.

Dalam buku “togog madeg pandhita” halaman 16, si bodoh (tepatnya si goblok) Noorsena ini pun menyindir Unitarian dengan gaya tokoh Semar berbicara kepada Bilung (sosok rekaan yang oleh Noorsena diarahkan kepada pihak Unitarian/Saksi Yehuwa): “ …tetapi ketika saya (Bambang Noorsena) kemukakan bahwa murid-murid para rasul menekankan keilahian Yesus, lha kok kamu tolak …”.

Begitu pula dalam bukunya yang ditulis khusus untuk menyerang orang-orang Saksi Yehuwa, si Bambang “goblok” Noorsena itu pernah berkata pula: “…Saksi-saksi Yehuwa, sebab mereka memang mengakui praeksistensi Yesus, tetapi mereka tidak menerima keilahian-Nya. …” (Lihat Buku: Haruskah Anda Percaya Kepada SAKSI-SAKSI YEHUWA? halaman 57, ISCS, Surabaya, 2007, tulisan Bambang Noorsena).

Sudah lama aku mendengar kabar di sana-sini di berbagai kota, yang intinya tersiar kabar bahwa: “awas, jangan dekat dengan Saksi Yehuwa, karena orang-orang Saksi Yehuwa itu sesat, karena mereka tidak percaya keilahian Yesus!”, atau juga, “Hati-hati, Unitarian itu sesat karena tidak mengakui keilahian Yesus!”. Dan akhirnya aku pun tahu bahwa ternyata Bambang Noorsena adalah salah satu dari para tukang fitnah yang gencar menyebarkan opini (tepatnya fitnah!) bahwa “Saksi Yehuwa dan Unitarian tidak mengakui keilahian Yesus” itu.

Lebih parah lagi, pada Sabtu, 23 Februari 2008, ISCS, beserta anak buah asuhan si goblok Noorsena, mengadakan Seminar Sehari di Semarang yang isinya menyerang Saksi Yehuwa dan Unitarian. Acara itu benar-benar penuh dengan propaganda busuk dan penipuan publik sebagaimana dalam lembar Undangannya pun tertulis kata-kata bernada dusta seperti berikut:

“Seminar Sehari & KKR Gratis!!! AWAS, AJARAN SESAT GENTAYANGAN DI SEKELILING ANDA!!! Tinjauan historis terhadap ajaran-ajaran yang menolak le-Ilahian Yesus dan ke-Tritunggalan Allah dari Saksi Yehova hingga Unitarianisme: Jawaban tuntas secara Theologis. Nara Sumber: Bambang Noorsena SH. MH. MA Pendiri ISCS ….” (garis bawah dan penebalan berasal dari aku).

Di Undangan tersebut, Bambang Noorsena cs sudah menebar fitnah kehadapan publik luas bahwa Saksi Yehova (Saksi Yehuwa) dan Unitarian adalah ajaran yang “MENOLAK ke-ilahian Yesus”.

Baik Saksi Yehuwa maupun Unitarian memang tegas menolak doktrin Allah Tritunggal (doktrin Allah Trinitas), tetapi kiranya pada kesempatan ini aku sampaikan bahwa: perlu seluruh dunia ketahui, bahwa Unitarian Indonesia (termasuk diriku) dan Saksi Yehuwa sesungguhnya TIDAK PERNAH MENOLAK KEILAHIAN YESUS!

Propaganda atau opini yang tersiar selama ini yang mengatakan bahwa Saksi Yehuwa dan Unitarian menolak keilahian Yesus, hanyalah fitnah murahan, penipuan, dan hasil karya anak-anak iblis, tukang tipu, sebagaimana Alkitab katakan: Iblis adalah bapak pendusta!

Klaim Bambang Noorsena cs yang menyatakan bahwa “Unitarian dan Saksi Yehuwa menolak keilahian Yesus”, hal itu hanyalah suatu FITNAH BESAR dari anak Iblis yang timbul akibat kebodohan dan kesombongannya sendiri!

Perlu aku bersaksi sekali lagi bahwa: Unitarian dan para Kristen penolak Trinitas lainnya memang tegas-tegas tidak meyakini Yesus sebagai Allah sejati, tetapi Unitarian percaya terhadap keilahian Yesus!

Dan kalau kemudian Bambang Noorsena dan anak buahnya yang goblok itu masih suka bertanya-tanya “kalau Yesus oleh Unitarian dianggap ilahi tapi bukan Allah, mana ada yang ilahi selain Allah sendiri?” seperti yang selama ini sering ditanyakan, maka inilah jawaban Alkitabiahnya, hai Noorsena cs yang bodoh …!!!:

Tapi, sebelum menjawabnya, sekali lagi ingin kukatakan: Adalah sangat bodoh jika ada orang seperti Bambang Noorsena yang berkata atau mengklaim bahwa “yang ilahi hanya Allah saja” atau “tidak ada sesuatu yang ilahi selain Allah sendiri”, hingga kemudian bergaya berani bertanya dengan pongahnya: “mana ada yang ilahi selain Allah sendiri?”. Sungguh suatu pertanyaan pongah yang bodoh bin goblok! Mengapa bodoh? Jawabannya adalah: Sebab menurut Alkitab justru terbukti bahwa ada banyak orang (pribadi) selain Allah yang juga bisa disebut ilahi! Mau tahu? Ini dia:

2 Petrus 1:3-4 menuliskan:

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Alkitab (Rasul Petrus) bersaksi bahwa manusia punya kodrat ilahi (divine nature)! Jelas artinya, bukan hanya Allah (Bapa atau Yahweh) saja yang bisa disebut sebagai “ilahi”, manusia pun punya divine nature atau godly nature (kodrat ilahi). Jadi kalau Noorsena sudah mengajarkan ajaran yang mengatakan bahwa “tidak ada yang ilahi selain allah sendiri”, maka ajaran yang semacam itu jelas-jelas adalah ajaran yang berbeda dengan ajaran Rasul Petrus!

Rasul Petrus, sang murid Yesus Kristus, bersaksi bahwa “kamu boleh mengambil bagian dalam KODRAT ILAHI”, yang dengan kata lain artinya jelas manusia bisa disebut sebagai “mahluk berkodrat ILAHI”. Sementara, Noorsena, yang tampaknya sudah lama berguru pada setan di lereng Gunung Argopuro, dengan pongah dan sangat percaya diri mengatakan bahwa: “tidak ada yang ilahi selain Allah sendiri”. He.. he… heee….! Manakah yang Anda percayai saudara-saudariku, kesaksian Rasul Petrus sang murid Yesus yang mulia, ataukah, perkataan Noorsena si murid setan Gunung Argopuro??? Kejujuran nurani Andalah yang bisa menentukannya ….!

Bahkan, kalau kita mau lebih jauh menelaah Alkitab, akan kita jumpai pula bahwa mahluk-mahluk ciptaan Allah bukan saja bisa disebut sebagai mahluk yang berkodrat ilahi, tetapi bisa pula bahkan disebut sebagai “allah” (elohim). Buktinya? Ini dia:
Kitab Mazmur 82:1 menyebut dengan jelas (gamblang, tidak ambigu) bahwa mahluk-mahluk sorga yang kepadanya Allah berfirman dalam sidang ilahi, disebut sebagai “para allah”, demikianlah:

“Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi”

Juga Mazmur 82:6, para mahluk surgawi oleh Yahweh disapa sebagai “allah”, demikianlah ada tertulis:

“Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.”

Jadi, semestinya Bambang Noorsena cs paham dan jujur bahwa istilah ‘ilahi’ (dan bahkan “allah”) adalah istilah di dalam Alkitab yang jelas-jelas bisa menunjuk kepada mahluk ciptaan Allah atau menunjuk kepada pribadi-pribadi yang selain Allah sejati (Yahweh).
Artinya, pertanyaan si pongah bodoh yang berbunyi: “mana ada yang ilahi selain Allah sendiri?” itu adalah pertanyaan yang keluar dari orang bodoh (goblok) yang sesungguhnya samasekali belum paham dengan ayat-ayat Alkitab secara utuh tetapi berlagak sok pintar!
Nah, maka jika di halaman 16 buku togog madeg pandhita Bambang Noorsena sudah mengejek tokoh Bilung rekaannya itu dengan perkataan: “…Ngaku bodho wae, …aja ngeyel terus” (mengakulah atas kebodohanmu, … jangan ngotot terus), kini aku pun akan secara proporsional mengembalikan kata-kata tersebut kepada si Bambang “goblok” Noorsena itu: “Waiii … Bambang ‘goblok’ Noorsena, ngaku bodho wae, .. aja ngeyel terus!!!” (Woi …Bambang ‘goblok’ Noorsena, mengakulah atas kebodohanmu, …jangan ngotot terus!!!).

*****

BAB 3

Teologi “Ego Eimi” ala Noorsena = teologi ala orang buta!

Bambang Noorsena dalam salah satu bukunya pernah menghina Saksi Yehuwa dengan berkata “betapa gobloknya ajaran Saksi Yehuwa”. Maka penghakiman berupa penghinaan itu pula layak aku kembalikan kini kepada Noorsena sendiri, oo… betapa gobloknya Sarjana Hukum tukang tipu ini ketika dengan jurus asal-asalan membahas ayat Yoh. 8:58 kemudian dengan tak tahu malu berkata bahwa: “ungkapan Ego eimi (I AM, “Aku Ada”), jelas mengacu kepada nama kekudusan Allah ketika menyatakan diri kepada Musa dalam Kel. 3:14.” (hal. 62, Haruskah Anda Percya Kepada Saksi-Saksi Yehuwa?, ISCS, 2007).

Mengapa Noorsena kusebut sebagai tak tahu malu?
Heeheee…, nanti kita akan sama-sama menyaksikannya, tapi kini biarlah kukutipkan pula argumen Noorsena di bukunya yang lain yang masih sama gobloknya dengan argumen itu. Ini dia:
“Selanjutnya, ungkapan Ego eimi (I AM, “Aku Ada”), jelas mengacu kepada nama kekudusan Allah ketika menyatakan diri kepada Musa dalam Kel. 3:14. Ungkapan Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh (Aku Ada yang Aku Ada), diterjemahkan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani): Ego eimi ho on. Artinya: Akulah Dia Yang Ada”. (hal. 29, Unitarian Bukan Kristen Tauhid, ISCS, 2008).
Dan ini satu lagi:
“… Yesus menyebut diri-Nya: Ego eimi. Artinya “Aku Ada” (Yoh 8:58), mengingatkan sabda YAHWE sendiri: “Aku Ada yang Aku Ada” (Kel 3:14). Juga sabda-sabda-Nya kepada para nabi lain: “Akulah Dia” (Yes. 43:2).” (hal. 21, togog madeg pandhita, ISCS, 2009).

Heheeheee… bisa-bisanya Noorsena si tukang tipu itu tiap tahun (2007, 2008, 2009) menulis buku yang di dalamnya coba-coba mengaitkan Ego eimi di Yoh 8:58 (yang mengacu pada Yesus) dengan Ego eimi di Keluaran 3:14 (yang menunjuk pada Yahweh), dengan tujuan menarik garis tafsir bahwa: “Yesus di Perjanjian Baru adalah Yahweh di Perjanjian Lama”.
Hahahaa…. Memang mungkin saja anak buah Noorsena yang goblok bisa dengan mudah diperdayai oleh argumen “entut berut” macam seperti itu. Tapi bagi orang yang paham betul tentang Ego eimi yang dimaksud dalam Yohanes 8:58 tersebut, tentu tak akan tertipu oleh jurus “orang buta” yang dilancarkan oleh Noorsena itu. Mengapa aku sebut teori Noorsena itu sebagai jurus “orang buta”? Nanti sebentar lagi kita akan melihatnya bersama-sama.
Sekarang mari kita bahas dulu sejenak tentang Ego eimi di ayat Yohanes 8:58 yang dikaitkan kepada Keluaran 3:14 oleh si Noorsena yang suka menipu itu.
Ayat Yoh. 8:58 berbunyi: “Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”. Kalimat Yesus itu dalam bahasa Yunani berbunyi: “Amen, Amen, lego humin: Prin Abraham genesthai, Ego eimi”. Nah, di sini yang dipermasalahkan oleh Noorsena adalah pada kata “Ego eimi” (I am, Aku ada). Noorsena mengklaim “Ego eimi” sebagai ungkapan yang mengacu kepada nama kekudusan Allah ketika menyatakan diri kepada Musa dalam Keluaran 3:14, yang berbunyi “Ehyeh asyer ehyeh (Aku Ada yang Aku Ada), yang diterjemahkan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani).
Benarkah argumen si Noorsena itu? Jawabnya adalah: jelas sangat salah! Makna Ego eimi sejatinya adalah “I am” atau “Aku ada” atau “Akulah dia”. Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa dan harus dipermasalahkan dengan kata “Ego eimi” (I Am, Aku ada) di sini. Dan kata Ego eimi yang diucapkan oleh Yesus samasekali bukan bukti bahwa Yesus di Perjanjian Baru = Yahweh di Perjanjian Lama (Kel. 3:14). Orang yang jujur dan paham akan tahu benar bahwa sejatinya kata “eimi” adalah bentuk “first person singular present indicative” (Lihat: Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries, no: 1510). Oleh karenanya “Ego eimi” di Yoh. 5:58 tepat diterjemahkan dengan “Aku ada” atau “Akulah dia”, sebab ungkapan ini menyampaikan suatu fakta tentang eksistensi Yesus yang di ayat tersebut dikatakan “sebelum Abraham jadi, Aku (yaitu Yesus) telah ada” (lihat pula: Yoh. 1:18, Yesus sudah ada di pangkuan Bapa; juga Yoh. 17:24 Yesus sudah ada sebelum dunia dijadikan; juga Mikha 5:1, Permulaannya [Yesus] sudah sejak purbakala). Artinya, adalah benar Yesus sudah ada sebelum Abraham ada, tapi itu samasekali tidak berarti Yesus adalah Yahweh atau sama dengan pribadi Ego eimi yang ada di Kel.3:14. Dengan seenak perut menyamakan begitu saja antara “Ego eimi” di Kel.3:14 dengan “Ego eimi” di Yoh. 8:58, hanya makin membuktikan betapa gobloknya si pendiri ISCS itu!

Pernyataan senada dengan itu, pernah pula dituliskan oleh Frans Donald dalam salah satu artikelnya yang cukup komprehensif di internet yang rupanya juga sedang ia tulis dalam rangka menanggapi argumen Bambang Noorsena atau mungkin anak buahnya Bambang Noorsena. Demikian argumen saudara Frans Donald: (Tulisan ini aku copy paste-kan dari tulisan Frans Donald tersebut):

Dalam buku “Unitarian Bukan Kristen Tauhid” (2008), yang ditulis khusus guna menyerang Kristen Unitarian Indonesia, di situ Bambang Noorsena (ortodoks Syria) mengklaim bahwa kata “Ego Eimi” (I Am, Aku Ada) di Yohanes 8:58 menjelaskan kesatuan Yesus sebagai Firman Allah dengan Wujud Allah dalam keabadian (halaman 31).
Memang, tampaknya ketika kacamata doktrin (Trinitas) sudah terlanjur dipakai, maka pandangan yang jernih (akal sehat) akan terganggu, sehingga ayat apa saja di Alkitab akan diupayakan diklaim sebagai “ayat yang menjelaskan keallahan Yesus”, termasuk pula soal “Ego Eimi” di Yoh 8:58 ini.

Yoh 8:58 tertulis: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”. Perkataan Yesus itu dalam bahasa Yunaninya berbunyi: “Amen, Amen, lego humin: Prin Abraham genestai, Ego eimi”. Nah, yang dipermasalahkan oleh beberapa orang Trinitarian (termasuk Bambang Noorsena) di ayat tersebut yaitu pada kata “Ego eimi” (I am, Aku ada). Oleh Bambang Noorsena “Ego Eimi” diklaim sebagai ungkapan yang mengacu kepada nama kekudusan Allah ketika menyatakan diri kepada Musa dalam Keluaran 3:14, yang berbunyi “Ehyeh asyer ehyeh”(Aku Ada yang Aku Ada), yang diterjemahkan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama bahasa Yunani).

Begini klaim Noorsena dalam bukunya: “Selanjutnya, ungkapan Ego eimi (I AM, “Aku ADA”), jelas mengacu kepada nama kekudusan Allah ketika menyatakan diri kepada Musa dalam Kel.3:14. Ungkapan Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh (Aku Ada yang Aku Ada), diterjemahkan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani): Ego eimi ho on. Artinya: “Akulah Dia Yang Ada”. (buku Unitarian Bukan Kristen Tauhid, halaman 29-30, 2008).
Sebenarnya sungguh terlalu berlebihan (ngawur) bila kata “Ego eimi” telah ‘dieksploitasi’ oleh orang-orang Trinitarian guna mengklaim bahwa “Yesus adalah Yahweh” hanya karena bahwasanya Yahweh juga pernah berkata serupa dengan “Ego eimi” di Perjanjian Lama (di Kel 3:14).
Ego eimi jelas artinya = I Am, atau “Aku ada” atau “Aku ada[-lah dia]”. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan kata “Ego eimi” (I Am, Aku ada) ini. Ego eimi samasekali bukan bukti keallahan. “Eimi” adalah kata kerja bentuk ‘present indicative singular’ untuk menyatakan suatu fakta. Maka dari itu “Ego eimi” di Yoh 5:58 cukup diterjemahkan saja dengan “Aku ada” atau “Aku ada[-lah dia]” karena ungkapan ini menyaksikan (MENYATAKAN FAKTA) tentang eksistensi Yesus yang di ayat tersebut dikatakannya “sebelum Abraham jadi, Aku (Yesus) telah ada” (bdnkn. Yoh 1:18, Yesus sudah ada di pangkuan Bapa; Yoh 17:24 Yesus sudah ada sebelum dunia dijadikan; Mikha 5:1, Permulaannya Yesus sudah sejak purbakala). Yesus memang SUDAH ADA sebelum Abraham ada, tapi itu samasekali bukan berarti Yesus adalah Yahweh.

“Ego Eimi” ini sebenarnya adalah kata sehari-hari yang biasa saja, yang bisa diucapkan dalam hal apapun oleh siapapun untuk menyaksikan/menyatakan suatu fakta bahwa ia ada atau dialah itu, dengan berkata “Aku ada” atau “Akulah dia” (I am). Bukti akurat bahwa “Ego eimi” bukan ungkapan yang harus menunjuk pada Yahweh (Allah) tapi juga bisa menunjuk pada siapa saja, bisa kita lihat pada kasus ketika seorang pengemis yang buta sejak lahir disembuhkan oleh Yesus (di Yoh 9). Di situ tertulis di ayat 8-9 sebagai berikut: “Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: “Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?” Ada yang berkata: “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata: “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata: “Benar, akulah dia (Ego eimi, I am).”
Pada Yoh 9:9, seorang pengemis yang pernah buta sejak lahir itu, berkata “Ego eimi”. Nah, artinya, jelas “ego eimi” adalah kata ganti orang (Ego) yang diikuti kata kerja bentuk ‘present indicative singular’ (eimi) untuk menyatakan suatu fakta. “Ego eimi” ini adalah suatu kata yang biasa-biasa saja, yang bisa diucapkan oleh siapa saja, dan samasekali tidak harus dimaknai sebagai menunjuk kepada “AKU ADA yang AKU ADA (Heyeh asyer heyeh) yang terdapat di Kel 3:14 yang adalah Yahweh (Allah Sejati)”. Jika Trinitarian mengklaim bahwa “Ego eimi” adalah kata yang menunjuk pada Yahweh oleh karena Yesus juga pernah berkata “Ego eimi”, maka konsekwensinya harus disimpulkan pula bahwa si pengemis buta yang disembuhkan oleh Yesus itu juga adalah Yahweh (Allah) sebab si pengemis itu juga telah berkata “Ego eimi”. Nah, lho!

Kesalahan tafsir para Trinitarian terhadap “Ego eimi”, adalah karena cara berpikir dan berargumentasi Trinitarian sudah terjebak (tepatnya tersesatkan!) oleh kacamata doktrin “Yesus adalah Allah” atau “Yesus adalah Yahweh yang menjelma jadi manusia”, sehingga hampir setiap ayat Alkitab selalu ‘dieksploitasi’ dan ditafsirkan sebegitu rupa untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah (Yahweh). Penafsiran dengan cara ‘mengeksploitasi’ ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan doktrin, memang sering terjadi. Sama seperti pernah diungkapkan juga oleh Eka Darmaputera bahwa, “Bagi fundamentalis Kristen, Alkitab adalah potongan-potongan ayat tertentu yang dipakai secara selektif untuk mendukung ‘ideologi’ mereka” (“Kebangkitan Agama Dan Keruntuhan Etika” dalam: Meretas Jalan Teologi Agama-Agama di Indonesia. BPK Gunung Mulia Jakarta 2003:64).

Beberapa pengajar doktrin “Yesus ADALAH YAHWEH YANG MENJELMA JADI MANUSIA” telah asal comot dan mengeksploitasi kata “Ego eimi” sebegitu rupa, untuk membangun argumen bahwa “Ego eimi = menunjuk pada kata ‘AKU ADA’ di Kel 3:14 yang adalah Yahweh”. Dengan berkata “Ego eimi” Yesus tengah mengakui dirinya sebagai Yahweh, begitulah argumen yang dibangun oleh Trinitarian guna mendirikan doktrinnya. Tapi argumen konyol yang asal comot semacam itu telah hancur berkeping-keping ketika dihadapkan dengan kisah si pengemis buta di Yoh 9:9 yang juga berkata “Ego eimi” !

Mari kita perhatikan pula “Ego eimi (Akulah dia, I am)” di ayat Yoh 13:18-19 berikut ini (kata “Ego eimi, I am, Akulah dia”-nya saya garis bawahi):

Terjemahan Westcott-Hort Greek New Testament: “ου περι παντων υμων λεγω εγω οιδα τινας εξελεξαμην αλλ ινα η γραφη πληρωθη ο τρωγων μου τον αρτον επηρεν επ εμε την πτερναν αυτου Ayat 19: απ αρτι λεγω υμιν προ του γενεσθαι ινα | πιστευητε | πιστευσητε | οταν γενηται οτι εγω ειμι

Terjemahan American Standart Version: I speak not of you all: I know whom I have chosen: but that the scripture may be fulfilled: He that eateth my bread lifted up his heel against me. From henceforth I tell you before it come to pass, that, when it is come to pass, ye may believe that I am he.

Terjemahan King James Version: I speak not of you all: I know whom I have chosen: but that the Scripture may be fulfilled, He that eateth bread with me hath lifted up his heel against me. Now I tell you before it come, that, when it is come to pass, ye may believe that I am he.

Terjemahan Revised Version: “I speak not of you all: I know whom I have chosen: but that the scripture may be fulfilled, He that eateth my bread lifted up his heel against me. From henceforth I tell you before it come to pass, that, when it is come to pass, ye may believe that I am he.

Terjemahan umum L.A.I, ITB (Indonesian Terjemahan Baru): “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.”

Kemudian mari kita coba bandingkan terjemahan Yoh 13:18-19 dari Alkitab-Alkitab di atas tadi dengan kedua terjemahan Alkitab berikut ini (fokusnya pada ayat yang 19):

Terjemahan Good News Bible (GNB): “I am not talking about all of you; I know those I have chosen. But the scripture must come true that says, ‘The man who shared my food turned against me.’ I tell you this now before it happens, so that when it does happen, you will believe that ‘I Am Who I Am.’

Terjemahan L.A.I-BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari): Apa yang Kukatakan ini bukanlah mengenai kalian semua. Aku tahu siapa-siapa yang sudah Kupilih. Tetapi apa yang tertulis dalam Alkitab, harus terjadi, yaitu ‘Orang yang makan bersama Aku, akan melawan Aku.’ Hal itu Kusampaikan kepadamu sekarang, sebelum terjadi, supaya kalau hal itu terjadi nanti, kalian akan percaya bahwa Akulah Dia yang disebut AKU ADA.

Kita bisa lihat bahwa versi terjemahan GNB dan L.A.I-BIS ternyata ada perbedaan yang cukup berarti dengan terjemahan-terjemahan Alkitab versi yang lainnya. Jika Kebanyakkan Alkitab berbagai versi (termasuk terjemahan L.A.I yang ITB) telah menterjemahlan “Ego eimi” dengan “I am” atau “Akulah dia”, tapi tidak demikian dengan GNB serta L.A.I-BIS.
GNB dan L.A.I-BIS telah menterjemahkan “Ego eimi” dengan “I Am Who I Am” atau “Akulah Dia yang disebut AKU ADA”.
Mengapa kata “Ego Eimi” (I Am, Akulah Dia) di Yoh 13:19 oleh L.A.I-BIS diterjemahkan sebagai “Akulah Dia yang disebut AKU ADA” ( di situ ditambahi frase “yang disebut AKU ADA”), dan tidak cukup dengan “Akulah Dia” saja, sementara berbagai versi terjemahan lainnya (termasuk L.A.I ITB) hanya menterjemahkan sebagai “Akulah Dia” (I Am) tanpa embel-embel tambahan frase “yang disebut AKU ADA” ?
Tampak sekali, bahwa guna membuat kesan kepada pembacanya bahwa “YESUS ADALAH YAHWEH”, maka L.A.I-BIS telah menterjemahkan “Ego Eimi” (I Am, Akulah Dia) di Yoh 13:19 sebagai “Akulah Dia yang disebut AKU ADA”.
Tidaklah berlebihan jika saya mencurigai bahwa oknum-oknum L.A.I yang membuat terjemahan Alkitab BIS telah SENGAJA menambahkan frase “yang disebut AKU ADA” pada terjemahan “Ego Eimi” (Yoh 13:19) tersebut guna upaya menggiring pembacanya agar sampai pada kesimpulan bahwa “Ego Eimi” di ayat tesebut menunjuk pada “Ehyeh asyer Ehyeh (=AKU ADA yang AKU ADA)” yang adalah Yahweh di Keluaran 3:14.
Siapa saja akan tahu bahwa frase “AKU ADA” di Kel 3:14 memang jelas menunjuk pada Yahweh. Nah, di sini terlihat jelas rupanya, bahwa untuk menggiring pembacanya pada kesimpulan bahwa Yesus adalah Yahweh (Yahweh yang menjelma jadi manusia), maka perkataan Yesus “Ego Eimi” (di Yoh 13:19) itu diterjemahkan sebagai “Akulah Dia yang disebut AKU ADA”. Kita bisa perhatikan bahwa L.A.I-BIS memakai huruf besar semua pada kata “AKU ADA” di ayat 19 itu, jelas adalah guna menunjuk kepada frase “AKU ADA” yang tertulis di Kel 3:14, dengan harapan agar tersimpulkan oleh pembacanya bahwa Yesus yang berkata “Aku Ada” di Perjanjian Baru adalah Yahweh (Allah Sejati) yang pernah berkata “Aku Ada (Ehyeh asyer ehyeh)” di Perjanjian Lama, atau tersimpulkan bahwa Yesus = Yahweh.
Itulah salah satu dosa besar, yang entah sengaja atau tidak, telah dilakukan oleh L.A.I dengan Yoh 3:19 versi Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) itu, yang jelas-jelas bisa (sudah?) menyesatkan banyak orang!
Tak keliru jika hendak dikata bahwa, L.A.I-BIS telah menjejalkan ajaran “YESUS ADALAH YAHWEH” kepada perkataan Yesus di Yoh 13:19. Mungkin orang-orang yang tidak sempat meneliti bisa saja (dan memang sudah terjadi) terkelabui oleh upaya ‘licik’ yang dilakukan oleh L.A.I-BIS terhadap Yoh 3:19 ini. Tetapi jika kita mencoba menelitinya secara kontekstual, maka akan jelas sekali bahwa “Akulah Dia (Ego Eimi)” di Yoh 13:19 sama sekali bukanlah pengakuan Yesus bahwa dirinya adalah Yahweh atau “Sang ‘AKU ADA’ yang tertulis di Kel 3:14”.
Perkataan Yesus “Akulah Dia (Ego Eimi)” di Yoh 13:19 jelas bukan menunjuk pada Yahweh, melainkan menunjuk pada “Aku” (yaitu Yesus di ayat 18) sebagai orang yang akan dikhianati oleh “orang yang makan roti-Ku, ..yang … mengangkat tumit terhadap Aku (berkhianat pada Yesus)”, yaitu yang belakangan diketahui sebagai sahabatnya Yesus yang bernama Yudas Iskariot. Hal ini bisa kita bandingkan dengan nubuatan terkait hal itu di Mazmur 41:10 yang menuliskan, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku”.

Kesimpulannya:
“Ego Eimi” di Yoh 8:58 ataupun Yoh 13:19, tidak menunjuk pada “Ego eimi” di Keluaran 3:14!

Doktrin dari Trinitarian yang mengklaim bahwa “Perkataan ‘Ego Eimi’ adalah bukti bahwa Yesus adalah Yahweh” hanyalah doktrin yang digunakan oleh orang-orang mabuk terhadap ilusi Trinitas, yang kehabisan akal sehatnya, guna membela doktrinnya (Trinitas) yang rapuh!

Nah jika dalam artikel di atas Frans Donald berpendapat bahwa argumen kaum Trinitarian soal Ego eimi hanyalah argumen orang yang kehilangan akal sehatnya, maka kini aku dalam menghadapi Noorsena yang pongah, akan meminjam penjelasan Frans Donald tentang Yoh. 9:9 tadi dan kemudian mengatakan bahwa Jurus “Ego Eimi” ala Noorsena tak ubahnya dengan teologi ala orang buta! Seperti butanya si pengemis buta dalam Yoh 9:9 yang berkata “Ego eimi”, yang mana telah disembuhkan oleh Yesus itu, hanya saja bedanya, pengemis itu telah sembuh, hingga bisa berkata di depan orang banyak: “Ego eimi!” , dan ia (yang juga telah berkata “Ego eimi” itu) tidak pernah menganggap dirinya sebagai Allah (Yahweh) di Keluaran 3:14, sedangkan Noorsena tampaknya masih buta mata batinnya hingga sekarang, sehingga terus-menerus ngawur dalam menafsirkan “Ego eimi” (perkataan Yesus) di Yoh. 8:58 tersebut!

Selama bertahun-tahun Noorsena nekad dengan tak tau malu ngotot bahwa “Ego eimi” di Yoh. 8:58 mengacu pada “Ehyeh asyer ehyeh” di Kel. 3:14, ah …malu ah …Noorsena! Atau jangan-jangan urat malumu sudah putus???

Oya, jika dalam buku “togog madeg pandhita” Noorsena sudah secara kurang ajar menyindir Pendeta Tjahyadi Nugroho (Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia atau API) dengan sebutan ketua APUSI, yang mana kata “APUSI” dalam bahasa Jawa semakna dengan “Bohong” (Menipu), dengan demikian sebenarnya Noorsena sedang menganggap Pdt. Tjahyadi Nugroho sebagai seorang pembohong (penipu), maka, kini aku pun berhak mengembalikan hinaan yang senada dengan hinaan Noorsena itu kepada diri Noorsena sendiri. Nih, Bambang Noorsena yang suka tipu-tipu orang, ketahuilah bahwa kau memang benar-benar adalah seorang B. NOORSENA, yaitu singkatan dari: Bisanya Nipu Orang-Orang di Sene-saNa.

*****

Iklan

%d blogger menyukai ini: